Ponsel Merk Lokal Berlomba Pikat Konsumen
Makin banyak ponsel bermerek lokal yang beredar di pasar. Ponsel yang sebenarnya diproduksi di Tiongkok itu berusaha memikat konsumen dengan beragam jurus. Salah satunya, menonjolkan fitur unik yang belum dimiliki merek populer seperti Nokia dan Sony Ericsson.
———-
StarTech ST67, misalnya. Memungkinkan dua nomor GSM siaga sekaligus merupakan fitur unggulan ponsel itu. Layar sentuh TFT 2,4 inci 65 ribu warna, bluetooth, GPRS, MMS, slot microSD, dan pemutar audio video adalah spesifikasi lain ST67.
Kamera 1,3 megapiksel ST67 tergolong kurang mengesankan. Posisi tombol End/No-nya yang tidak lazim, tepat di tengah tombol navigasi yang pada kebanyakan ponsel bermakna Ok/Select, membuat pengguna baru ST67 harus membiasakan diri. Kendati harga resminya dipatok Rp 1,499 juta, gerai-gerai ponsel menjual ST67 di rentang harga Rp 1,45-1,475 juta.
Sama dengan ST67, D-One DM289 menonjolkan kemampuan dual online. Sebagai ponsel dual mode dual online, dua nomor yang bisa aktif sekaligus di DM289 terdiri atas satu nomor GSM dan satu nomor CDMA. GSM-nya kompatibel dengan semua operator di tanah air, sedangkan CDMA-nya bisa dipadukan dengan TelkomFlexi, StarOne, Esia, dan Fren Mobile-8. Layanan operator CDMA Smart tak bisa dinikmati karena mode CDMA DM289 hanya bisa beroperasi di frekuensi 800 MHz. Padahal, Smart memanfaatkan rentang frekuensi 1.900 MHz.
Ponsel yang tampilan fisik dan fiturnya sama persis dengan Taxco DM70, kecuali lain merek ini, dibekali layar TFT 262 ribu warna. GPRS, MMS, perekam suara, buku telepon berkapasitas seribu nama, dan slot microSD merupakan beberapa fitur ponsel tersebut.
Untuk membantu pengguna menyaring panggilan masuk, tersedia fitur call guard yang dapat dioptimalkan. Folder SMS maupun nada dering antara nomor GSM dan CDMA bisa dibedakan. Namun, untuk alert SMS, pengguna tak bisa membedakannya. Satu alert berlaku untuk nomor GSM maupun CDMA.
Dengan memanfaatkan kabel data yang disertakan dalam paket penjualan, pengguna bisa mentransfer file MP3, lalu memanfaatkannya sebagai nada dering telepon. Sedangkan untuk alert SMS, puas atau tidak, pengguna wajib memilih satu di antara sepuluh pilihan. Tak ada peluang untuk memperbanyak pilihan alert SMS.
Ketiadaan bluetooth dan inframerah menjadi sisi kurang menarik DM289 yang dibanderol Rp 1,999 juta ini. Kinerja kamera 1,3 megapikselnya juga belum layak disebut memuaskan.
Bagaimana dengan Taxco TX80? Ponsel itu tidak dual online seperti ST67 dan DM289. Paduan antara layar lebar berpelindung, analog tv tuner, perekam siaran radio, dan puluhan game menjadi nilai lebih TX80.
Layar sentuhnya sanggup menghadirkan hingga 262 ribu warna. Tidak seperti mayoritas layar sentuh ponsel bermerek lokal, layar TX80 dilapisi pelindung. Bayangkan saja kerasnya layar ponsel biasa, namun yang ini touch screen, bukan ala layar sentuh personal digital assistant (PDA) dan sebagian ponsel yang terasa lunak kala disentuh. Di layar berukuran 2,8 inci itulah, pengguna bisa menyaksikan siaran televisi dengan gratis atau memainkan 36 game yang telah diinstalasikan.
Kemampuan mendengarkan siaran radio FM tanpa harus menancapkan handsfree plus merekam radio secara terjadwal menjadi sisi menarik lain TX80. Fitur lain ponsel berharga jual Rp 1,899 juta itu, antara lain, bluetooth, pemutar audio video, nada dering MP3, dan slot microSD.
Satu hal yang mutlak digarisbawahi, di iklan media cetak ponsel itu disebut berkamera 1,3 megapiksel. Kenyataannya, pilihan ukuran terbesar di menu TX80 hanya 640 x 480 piksel atau setara dengan 0,3 megapiksel. (Herry S.W.)