Di dalam suatu pertandingan dan perlombaan apapun setiap kontestan selalu siap untuk jadi pemenang. Bahkan untuk itu persiapan sudah dilakukan jauh-jauh hari. Motivator didatangkan untuk memberikan motivasi demi terlaksanakannya upaya yang amat kuat dalam meraih kesuksesan. Yang ada hanya 3S. Sukses, sukses dan (sekali lagi) sukses. Tetapi tidak banyak yang bersiap-siap untuk gagal. Atau seperti yang ada dalam sebuah iklan, “Saya diterima…………….tetapi tahun depan.”
Hingga pelaksanaan PMDK Tahun 2007, Program Studi Pendidikan Dokter masih tetap merupakan program studi dengan tingkat persaingan yang sangat tinggi. Untuk jalur prestasi pada tahun 2007, total peminat Program Studi Pendidikan Dokter adalah 1483 orang sedangkan yang dinyatakan lolos sebanyak 21 orang. Dan prediksi kami, pada pelaksanaan penerimaan mahasiswa baru (PMB, nama baru untuk PMDK) tahun 2008 akan terjadi hal yang sama. Program Studi Pendidikan Dokter masih akan menjadi incaran banyak calon mahasiswa. Itu berarti persaingan makin sengit dan juga resiko untuk tidak lolos juga semakin besar.
Tingkat persaingan antara yang mendaftar dan yang diterima pada Program Studi Pendidikan Dokter melalui jalur prestasi adalah 70 : 1. Secara statistik ini berarti dari 70 orang pendaftar, ada 1 yang diterima di Program Studi Pendidikan Dokter. Dengan dasar angka ini maka seorang konselor berani mengatakan bahwa untuk bisa masuk ke Program Studi Pendidikan Dokter seorang peserta harus bisa menyingkirkan 70 peserta lain. Masalahnya apakah memang demikian ?
Saya termasuk salah satu yang tidak sependapat dengan pola pikir konselor tersebut. Menurut saya, untuk bisa masuk di Program Studi Pendidikan Dokter setidaknya kita harus bisa menyingkirkan 1462 ( = 1483 pendaftar total – 21 yang diterima), bukan hanya menyingkirkan 70 orang. Kok ?
Iya, dalam seleksi semacam itu seluruh pendaftar tidak dibagi menjadi 21 kelompok yang kemudian dari masing-masing kelompok itu diambil yang nilainya tertinggi. Sekali lagi tidak demikian, melainkan semua dirangking dari atas sampai ke bawah kemudian diambil 21 peserta terbaik. Jadi benar pendapat saya, bahwa untuk bisa masuk di Program Studi Pendidikan Dokter maka seorang peserta harus mampu menyingkirkan 1462 peserta lain. Ini yang sepertinya kurang mendapat perhatian konselor di sekolah atau bimbingan belajar.
Jadi berat dong ? Memang. Kita harus mampu mengukur diri kita. Jangan sampai kita atau orang tua kita terlena dengan angan-angan tanpa melihat kenyataan.
Saya tidak bermaksud mengecilkan hati calon peserta yang akan masuk Program Studi Pendidikan Dokter. Tetapi sebaliknya saya bermaksud untuk ikut memotivasi bahwa dibutuhkan upaya yang luar biasa untuk bisa masuk ke program studi favorit seperti Program Studi Pendidikan Dokter. Jer basuki mowo bea.